JAKARTA — Kondisi saluran air di kawasan depan Pasar Mitra, Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora, akhirnya menjadi sorotan serius. Pendangkalan parah akibat tumpukan lumpur dan sampah yang terjadi selama bertahun-tahun mendorong pemerintah turun tangan melalui kerja bakti massal, Minggu (11/4).
Sebanyak 180 personel gabungan dikerahkan untuk membersihkan saluran penghubung (PHB) sepanjang kurang lebih 450 meter dengan lebar empat meter. Saluran yang seharusnya memiliki kedalaman dua meter itu kini nyaris kehilangan fungsinya akibat sedimentasi yang menutup sebagian besar volume air.
Camat Tambora, Pangestu Aji, mengungkapkan bahwa kondisi di lapangan sudah jauh dari ideal dan berpotensi memicu genangan saat hujan deras.
ADVERTISEMENT
Advertesment
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kedalaman saluran sudah sangat berkurang karena dipenuhi lumpur dan sampah. Ini jelas menghambat aliran air,” ujarnya.
Ia menegaskan, normalisasi saluran menjadi langkah mendesak meskipun wilayah Tambora tidak termasuk kategori rawan banjir. Namun, genangan tetap kerap terjadi saat curah hujan tinggi, terutama di titik-titik dengan sistem drainase yang terganggu.
“Kalau tidak segera ditangani, genangan bisa semakin sering terjadi,” tambahnya.
Di sisi lain, kondisi ini juga menjadi cerminan masih lemahnya perawatan rutin terhadap infrastruktur drainase. Pangestu menilai, upaya pembersihan tidak boleh bersifat insidental, melainkan harus dilakukan secara berkala dan konsisten.
Dalam kegiatan tersebut, ratusan karung sampah berhasil diangkat dari dalam saluran, menandakan tingginya beban limbah yang selama ini mengendap.
Sebagai langkah pembenahan menyeluruh, pihak kecamatan juga menggulirkan program TAMPAN (Tambora Tertib, Aman, Mandiri, Peduli, Asri, dan Nyaman). Program ini mencakup penataan kawasan, termasuk penertiban trotoar, pengelolaan jaringan listrik melalui OPAL, hingga penguatan sistem pengelolaan sampah.
Persoalan sampah sendiri masih menjadi tantangan utama. Berdasarkan data Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat, mayoritas sampah di wilayah Tambora merupakan sampah residu yang sulit diolah.
“Kami terus dorong masyarakat untuk memilah sampah dari rumah. Ini penting agar beban saluran tidak semakin berat,” jelas Pangestu.
Upaya lain juga tengah dijajaki melalui kerja sama dengan pihak swasta dalam pengelolaan limbah minyak jelantah, sebagai bagian dari strategi mengurangi volume sampah rumah tangga.
Sementara itu, Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Husen Ishaq, menilai kondisi PHB Pasar Mitra memang sudah lama luput dari penanganan serius. Dari hasil tinjauan lapangan, bagian hulu saluran diperkirakan tidak dibersihkan selama lebih dari satu dekade.
“Ketebalan sedimen hampir mencapai dua meter. Ini tidak bisa diselesaikan sekaligus, harus bertahap,” ungkapnya.
Ia menegaskan pentingnya perawatan berkala agar kondisi serupa tidak kembali terulang.
“Kalau rutin dibersihkan, tidak akan sampai separah ini. Saluran harus terus dijaga fungsinya,” pungkasnya.
Penulis : Rls
Editor : Hery Lubis































