JAKARTA — Keberadaan terminal bayangan di wilayah Jakarta Barat kembali menjadi sorotan. Ketegasan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menertibkan terminal ilegal menjelang arus mudik Lebaran 2026 dipertanyakan, lantaran aktivitas tersebut masih berlangsung bebas tanpa pengawasan.
Berdasarkan pantauan di kawasan Jalan Outer Ring Road (ORR) Cengkareng, tepatnya di depan gerbang Tol Kamal, terlihat sejumlah bus antar kota antar provinsi (AKAP) berjejer menunggu penumpang. Bus-bus tersebut melayani keberangkatan pemudik ke berbagai daerah di Pulau Jawa.(14/3/2026)
Meski aktivitas itu berlangsung cukup ramai, tidak terlihat adanya petugas yang melakukan pengawasan ataupun penertiban di lokasi.
ADVERTISEMENT
Advertesment
SCROLL TO RESUME CONTENT
Para agen bus bahkan terkesan tidak khawatir terhadap kemungkinan adanya razia. Salah seorang petugas loket di terminal bayangan tersebut menyebut aktivitas mereka berjalan seperti biasa.
“Aman, Pak. Semua bisa diatur, kawan kita semua,” ujar petugas loket tersebut.
Seorang warga Kayu Besar di lokasi Arif, menilai pernyataan pemerintah terkait penertiban terminal bayangan hanya sebatas pencitraan. Menurutnya, hingga saat ini tidak terlihat langkah nyata dari pihak terkait untuk menindak aktivitas tersebut.
“Itu mah hanya gimik agar terlihat tegas. Faktanya di lapangan tidak ada petugas Dishub yang berani menertibkan. Terminal bayangan ini sudah seperti ATM bagi para oknum. Tunggu saja sebentar lagi biasanya ada yang datang tanpa seragam sebentar lalu pergi,” ujar Arif.
Selain menimbulkan kemacetan di kawasan tersebut, aktivitas terminal bayangan itu disebut telah berlangsung selama bertahun-tahun tanpa penindakan tegas dari aparat berwenang.
Arif juga meminta Gubernur DKI Jakarta turun langsung melakukan investigasi ke lokasi untuk memastikan apakah instruksi penertiban benar-benar dijalankan oleh jajaran di lapangan.
“Coba Pak Gubernur cek langsung ke Ring Road Cengkareng. Lihat bagaimana kerja Dishub Jakarta Barat. Jangan hanya menerima laporan di atas meja. Percuma kalau di media bilang mau berantas terminal bayangan, tapi faktanya berbeda,” tegasnya.
Sementara itu, salah satu penumpang tujuan Purwodadi, Sunardi, mengaku memilih berangkat dari terminal bayangan karena dinilai lebih praktis dibandingkan harus menuju terminal resmi.
“Lebih mudah aksesnya dari rumah. Kalau dari terminal resmi selain jauh juga lebih ribet,” kata Sunardi.
Penulis : Hery Lubis
Editor : Red
































