CILACAP JATANG – Suasana khidmat dan penuh makna menyelimuti kawasan Teluk Penyu, Cilacap, pada Minggu (03/05/2026). Rombongan Keraton Surakarta Hadiningrat tiba di lokasi dalam rangka melaksanakan ritual adat sakral pemetikan Sekar Wijaya Kusuma di Pulau Majeti, bagian dari kawasan Nusakambangan.
Kedatangan rombongan ini menjadi momen yang sangat istimewa dan membanggakan bagi seluruh masyarakat, mengingat tradisi suci ini hanya diadakan sekali dalam seratus tahun.
Kedatangan Rombongan Disambut Khidmat
ADVERTISEMENT
Advertesment
SCROLL TO RESUME CONTENT
Rombongan yang terdiri dari kerabat dan petinggi Keraton tiba di Teluk Penyu dengan persiapan yang matang dan penuh penghormatan. Kehadiran mereka disambut dengan penuh kekaguman oleh warga dan tokoh masyarakat setempat, yang menyadari bahwa peristiwa ini bukanlah hal yang bisa disaksikan setiap masa.
Dari Teluk Penyu, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Pulau Majeti menggunakan armada khusus yang telah disiapkan. Pulau yang dikenal memiliki nilai sejarah dan spiritual yang tinggi ini telah ditetapkan sebagai lokasi utama pelaksanaan prosesi adat yang diwariskan turun-temurun sejak ratusan tahun silam.
Tradisi Langka, Hanya Digelar Setiap 100 Tahun
Yang membuat ritual ini semakin istimewa adalah frekuensi pelaksanaannya. Berbeda dengan kegiatan adat pada umumnya yang diadakan setiap tahun atau beberapa tahun sekali, pemetikan Sekar Wijaya Kusuma ini hanya dilaksanakan sekali dalam rentang waktu 100 tahun.
Hal ini menjadikan setiap orang yang dapat menyaksikan atau bahkan terlibat di dalamnya beruntung luar biasa, karena kesempatan seperti ini mungkin tidak akan terulang kembali seumur hidup. Tradisi ini menjadi bukti nyata bahwa warisan budaya leluhur tetap dijaga kelestariannya, meski zaman terus berubah dan berkembang.
Makna dan Prosesi yang Sarat Nilai
Sekar Wijaya Kusuma bukan sekadar bunga biasa. Dalam catatan sejarah dan kepercayaan Keraton, bunga ini melambangkan wahyu kepemimpinan, kejayaan, serta kekuatan untuk melindungi dan menyejahterakan rakyat. Bunga jenis khusus yang tumbuh secara alami di kawasan Nusakambangan ini juga dikenal sangat langka, jarang mekar, dan hanya bisa didapatkan di tempat-tempat tertentu yang dianggap suci.
Prosesi pemetikannya tidak dilakukan secara sembarangan. Sebelum mengambil bunga, para utusan Keraton terlebih dahulu melakukan serangkaian upacara, berdoa, dan menghormati leluhur sebagai bentuk kesadaran bahwa apa yang diambil adalah karunia yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan.
Bukti Ikatan Sejarah dan Budaya
Pelaksanaan ritual ini juga semakin mengukuhkan hubungan yang sudah terjalin lama antara Keraton Surakarta dan wilayah Cilacap. Sejak zaman dahulu, Cilacap dan khususnya kawasan Nusakambangan memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah dan spiritual Keraton. Tempat ini dianggap sebagai tanah yang menyimpan berkah dan sumber kekuatan bagi para pemimpin dan seluruh rakyat.
Masyarakat berharap, pelaksanaan tradisi suci ini dapat membawa berkah, kemajuan, dan kesejahteraan, serta menjadi pengingat akan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai jati diri bangsa.(Tim)
Penulis : Sangidun
Editor : Redaksi































