JAKARTA – Membangun generasi muda yang kritis, berani menyuarakan kebenaran, dan bijak dalam menyikapi derasnya arus informasi digital menjadi salah satu tantangan dunia pendidikan saat ini. Menjawab tantangan tersebut, SMAN 33 Jakarta menggelar Workshop Jurnalistik bertema “Tangkap Fakta, Suarakan Kebenaran”, Senin (2/11/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini menjadi langkah edukatif dalam memperkenalkan dunia jurnalistik kepada pelajar. Tidak sekadar mengajarkan teknik menulis berita, workshop tersebut juga memberikan pemahaman mendalam mengenai etika pers, literasi media, kemampuan berpikir kritis, serta tanggung jawab dalam menyampaikan informasi kepada publik.
Workshop menghadirkan sejumlah praktisi media, yakni Mubinoto Amy, Redaktur Ifakta.co, dan Zahara Sitio, Redaktur WahanaNews.co. Kegiatan ini turut didampingi Hery Lubis, Pemimpin Redaksi Duadimensi.com, serta Bambang Satrio dari Ifakta.id.
ADVERTISEMENT
Advertesment
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selama kegiatan, para peserta mendapatkan pembekalan mengenai prinsip dasar jurnalistik, teknik menggali informasi, verifikasi fakta, konfirmasi narasumber, hingga penyajian berita yang akurat, berimbang, dan bertanggung jawab.
Pada hari pertama, materi difokuskan pada pemahaman Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan Pedoman Pemberitaan Ramah Anak (PPRA). Sementara pada hari kedua, peserta dibekali kemampuan menerapkan unsur 5W+1H dalam penulisan berita serta teknik menyusun tulisan feature yang menarik dan informatif.
Menanamkan Etika dan Tanggung Jawab Jurnalistik
Dalam pemaparannya, Zahara Sitio menegaskan bahwa Kode Etik Jurnalistik merupakan landasan utama yang harus menjadi pegangan setiap wartawan dalam menjalankan tugas profesinya.
Menurutnya, keberanian mengungkap fakta harus berjalan beriringan dengan proses verifikasi, keberimbangan informasi, serta penerapan asas praduga tak bersalah. Terlebih, dalam pemberitaan yang berkaitan dengan dugaan tindak pidana, jurnalis harus mampu menjaga akurasi dan tidak menghakimi seseorang melalui pemberitaan.
“Jurnalis harus berani mengungkap fakta dan menyampaikan informasi yang menjadi kepentingan publik. Namun, keberanian tersebut harus dibarengi tanggung jawab, verifikasi, dan penggunaan bahasa yang tepat. Jangan sampai seseorang yang masih berstatus terduga sudah dihakimi melalui pemberitaan sebelum ada keputusan pengadilan,” ujar pria yang biasa dipanggil Tio itu.
Senada dengan hal tersebut, Mubinoto Amy menyoroti pentingnya penerapan Pedoman Pemberitaan Ramah Anak (PPRA), khususnya dalam pemberitaan yang melibatkan anak.
Ia menjelaskan, jurnalis memiliki tanggung jawab untuk mengutamakan perlindungan identitas, privasi, serta kepentingan terbaik bagi anak. Nilai berita dan daya tarik pemberitaan tidak boleh mengesampingkan hak-hak anak.
“Dalam pemberitaan yang melibatkan anak, jurnalis tidak boleh hanya berorientasi pada menariknya sebuah berita. Ada hak dan masa depan anak yang harus dilindungi. Karena itu, identitas anak, privasi, serta hal-hal yang dapat mengarah pada pengungkapan jati dirinya harus benar-benar diperhatikan,” ungkap Mubinoto.
Pelajar Kritis terhadap Independensi dan Kebebasan Pers
Tidak hanya menerima materi secara teoritis, para peserta juga terlibat aktif dalam sesi diskusi interaktif. Berbagai persoalan aktual dalam dunia jurnalistik menjadi bahan pembahasan, termasuk independensi pers, kebebasan memperoleh informasi, hingga tantangan keselamatan wartawan saat menjalankan tugas peliputan.
Salah satu peserta, Zievara Ruci Ragati, mengangkat persoalan independensi pers dan tekanan yang masih dihadapi wartawan, khususnya ketika meliput aksi demonstrasi.
Ia menilai independensi merupakan prinsip mendasar agar pemberitaan tidak terpengaruh kepentingan maupun tekanan dari pihak tertentu.
“Saya melihat masih ada jurnalis yang mengalami tekanan ketika menyampaikan informasi, termasuk saat meliput demonstrasi. Padahal, mereka sedang menjalankan tugas untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Menurut saya, keselamatan jurnalis harus menjadi perhatian karena mereka memiliki hak untuk bekerja dan menyampaikan fakta,” tuturnya.
Pertanyaan dan pandangan kritis tersebut memperlihatkan bahwa pembelajaran jurnalistik memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan menulis dan menyusun berita. Pemahaman mengenai kebebasan pers, independensi, perlindungan wartawan, serta tanggung jawab menyampaikan informasi juga menjadi bagian penting dalam membentuk karakter generasi muda.
Selain siswa SMAN 33 Jakarta, kegiatan ini turut diikuti perwakilan pelajar dari SMA IP Yakin, SMA Cahaya Fadilah, dan SMA Cengkareng 1.
Melalui workshop ini, SMAN 33 Jakarta diharapkan dapat terus mendorong tumbuhnya budaya literasi media di lingkungan pendidikan. Para pelajar tidak hanya diharapkan mampu menghasilkan karya jurnalistik, tetapi juga memiliki kemampuan memilah informasi, mengenali berita yang tidak benar, serta menggunakan media sosial secara cerdas dan bertanggung jawab.
Lebih dari sekadar memperkenalkan profesi wartawan, kegiatan bertema “Tangkap Fakta, Suarakan Kebenaran” ini menjadi ruang pembelajaran untuk menumbuhkan generasi muda yang kritis, berintegritas, berani menyampaikan kebenaran, serta menjunjung tinggi etika dalam setiap informasi yang disampaikan.
Sebab, di tengah derasnya arus informasi digital, keberanian berbicara harus selalu disertai kemampuan memastikan kebenaran.
Penulis : Hery Lubis
Editor : Redaksi






