SERANG BANTEN – Pondok Pesantren Al Markaz yang berlokasi di Sambilawang, Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang, Banten, mengembangkan agro eduwisata sebagai ekosistem pertanian modern berbasis edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Kawasan yang diresmikan pada 2023 ini menjadi contoh pemanfaatan lahan produktif skala kecil yang mendukung ketahanan pangan sekaligus menjadi destinasi wisata edukatif.
Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (BPN) Provinsi Banten, Harison Mocodompis, menerima kunjungan Direktur Jenderal Penataan Agraria, Embun Sari, bersama Staf Khusus Bidang Reforma Agraria Rezka Oktoberia dan Direktur Pemberdayaan Tanah Masyarakat Freddy A. Kolintama. Kunjungan tersebut bertujuan meninjau langsung kawasan agro eduwisata serta menggali potensi pertanian rakyat sebagai garda terdepan dalam mendukung swasembada pangan.
Dalam kesempatan itu, Embun Sari mengapresiasi sambutan hangat pengelola pesantren serta inovasi yang dikembangkan. Ia menegaskan bahwa reforma agraria tidak berhenti pada pemberian sertifikat tanah semata.
“Reforma agraria bukan hanya soal kepastian hak atas tanah, tetapi juga tentang apa yang dilakukan setelah tanah itu dimiliki. Jika lahan tidak dikelola secara produktif, tujuan redistribusi bisa gagal,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Embun menjelaskan, sejak 2006 reforma agraria dirancang melalui pendekatan asset reform dan access reform, yakni pemberian tanah yang disertai pemberdayaan. Menurutnya, agro eduwisata Al Markaz menjadi contoh bagaimana lahan dapat dikelola hingga memiliki nilai tambah ekonomi. Keberhasilan ini juga tidak terlepas dari peran figur penggerak, khususnya kiai dan pengelola pesantren.
“Program tidak akan berjalan optimal tanpa sosok penggerak. Figur seperti kiai di pesantren ini perlu diperbanyak,” tambahnya.
Sementara itu, Staf Khusus Bidang Reforma Agraria Rezka Oktoberia menilai agro eduwisata Al Markaz sebagai praktik pemberdayaan lahan yang inspiratif.
“Ini bukan sekadar kunjungan ke pondok pesantren, tetapi melihat langsung pengelolaan agro eduwisata yang luar biasa. Dari lahan sekitar 1,5 hektare, mampu menghasilkan produk pertanian yang bermanfaat bagi kesehatan sekaligus meningkatkan perekonomian,” ungkapnya.
Kawasan pesantren ini memiliki 14 green house, tiga di antaranya telah menerapkan sistem Internet of Things (IoT). Setiap green house ditanami berbagai komoditas seperti anggur, melon, dan sayur-sayuran. Selain itu, tersedia pula arena outbound dan flying fox, sehingga pengunjung tidak hanya memperoleh pengetahuan pertanian, tetapi juga pembentukan karakter.
Sebanyak 95 persen aktivitas pertanian melibatkan para santri, baik sebagai bagian dari mata pelajaran maupun penyaluran minat dan bakat di bidang pertanian.
Pimpinan Pondok Pesantren Al Markaz, Ustadz Amirul Faruk, menekankan bahwa bertani bukan sekadar profesi, melainkan filosofi hidup.
“Menjadi apa pun kelak—presiden, menteri, pejabat—harus bisa bertani. Dari pertanian kita belajar tanggung jawab, kesabaran, dan ketahanan,” tuturnya.
Melalui kunjungan ini, diharapkan model agro eduwisata Pondok Pesantren Al Markaz dapat menjadi inspirasi bagi pengelolaan lahan produktif di wilayah lain serta memperkuat peran reforma agraria dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Serang Elfidian Iskariza, Kepala Kantor Pertanahan Kota Serang Taufik Rokhman, para kepala seksi penataan dan pemberdayaan, kepala seksi survei dan pengukuran, serta jajaran terkait.
Kalau mau, saya juga bisa:
memendekkan lagi agar cocok untuk rilis humas, menyesuaikan gaya media online atau media cetak,atau membuat judul alternatif yang lebih “menjual”.
Penulis : Rls
Editor : Hery Lubis































