JAKARTA — Pameran Pertamanan Flora dan Fauna (Flona) Jakarta 2026 tidak hanya menjadi ruang untuk memamerkan tanaman dan satwa, tetapi juga menjelma menjadi panggung yang mempertemukan kekayaan alam, budaya, edukasi, hingga potensi ekonomi masyarakat dari berbagai wilayah Indonesia.
Mengusung tema “Akar Nusantara Bertumbuh di Jakarta”, Flona 2026 yang berlangsung di Taman Lapangan Banteng, Sawah Besar, Jakarta Pusat, menghadirkan ratusan stan dengan beragam konsep dan kekhasan daerah.
Salah satu yang menarik perhatian adalah stan Jakarta Barat yang mengangkat tema “Serpihan Surga di Jantung Sulawesi”. Konsep tersebut memadukan rumah adat dengan berbagai tanaman sebagai representasi kekayaan flora dan budaya Sulawesi.
ADVERTISEMENT
Advertesment
SCROLL TO RESUME CONTENT
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo bersama Ketua TP PKK Provinsi DKI Jakarta Hani Pramono turut meninjau stan tersebut saat mengunjungi Flona 2026, Jumat (4/9).
Dalam kunjungannya, Pramono melihat sejumlah stan yang menampilkan keragaman flora, fauna dan budaya dari berbagai daerah. Ia mengapresiasi penyelenggaraan Flona yang dinilai mampu menghadirkan keberagaman Nusantara dalam satu ruang publik di Jakarta.
Menurut Pramono, keberagaman yang ditampilkan dalam Flona sekaligus menggambarkan karakter Jakarta sebagai kota yang terbuka dan menjadi tempat bertemunya masyarakat dari berbagai latar belakang budaya.
Wakil Wali Kota Jakarta Barat Ali Murthadho mengatakan, kehadiran stan Jakarta Barat tidak semata memperkuat sisi estetika pameran. Lebih dari itu, konsep yang dihadirkan diarahkan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat untuk mengenal kekayaan flora, fauna dan budaya Indonesia.
“Stan Jakarta Barat tidak hanya memperkuat konsep pameran, tetapi juga menjadi sarana edukasi masyarakat mengenai kekayaan flora, fauna, dan budaya Indonesia,” ujar Ali.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta Barat Dirja Kusuma menyebut anggrek menjadi salah satu tanaman yang diunggulkan dalam stan Jakarta Barat.
Beberapa jenis yang ditampilkan antara lain anggrek bulan dan dendrobium. Kehadiran tanaman tersebut sekaligus memperlihatkan kekayaan hortikultura yang menjadi bagian penting dalam konsep pameran.
Flona 2026 sendiri berlangsung hingga 28 September 2026. Tahun ini, sebanyak 284 stan ikut ambil bagian, terdiri dari stan exhibition, flora, fauna, UMKM, hingga sponsor.
Dengan konsep tersebut, Flona 2026 tidak hanya menawarkan ruang rekreasi bagi warga Jakarta. Pameran ini juga diarahkan menjadi ruang pembelajaran tentang keanekaragaman hayati sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku UMKM dan masyarakat.
Di tengah padatnya aktivitas ibu kota, Flona menghadirkan pesan bahwa pembangunan kota tidak harus berjarak dengan alam. Justru melalui ruang publik seperti Lapangan Banteng, keberagaman flora, fauna dan budaya Nusantara dapat diperkenalkan sekaligus dirawat sebagai bagian dari kehidupan masyarakat perkotaan.
Editor : Lam
Sumber Berita : Redaksi































