JAKARTA — Persoalan sampah di Jakarta kini tak lagi hanya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan atau pemerintah daerah. Di tengah meningkatnya volume sampah ibu kota, pengelola Terminal Kalideres mulai mendorong perubahan perilaku pedagang dan pelaku UMKM agar lebih disiplin memilah sampah sejak dari sumbernya.
Langkah ini dilakukan sebagai tindak lanjut Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang pengurangan dan pengelolaan sampah. Terminal yang setiap hari dipadati aktivitas penumpang, pedagang, dan kendaraan umum dinilai menjadi salah satu titik penting penghasil sampah harian.
Kepala Terminal Kalideres, Nur Prasetyo, mengatakan persoalan utama bukan hanya banyaknya sampah, tetapi masih rendahnya kebiasaan memilah sampah di lingkungan terminal.
ADVERTISEMENT
Advertesment
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kesadaran memilah sampah memang belum bisa dibangun dalam satu kali sosialisasi. Karena itu kami terus mengingatkan pedagang kios maupun pelaku UMKM agar mulai membiasakan memisahkan sampah organik dan anorganik,” ujarnya.
Menurutnya, aktivitas perdagangan di terminal menghasilkan berbagai jenis limbah seperti plastik makanan, botol minuman, kaleng hingga sisa makanan yang selama ini masih banyak tercampur saat dibuang.
Padahal, pemilahan sampah dari sumber dinilai menjadi langkah paling penting untuk mengurangi beban pengangkutan sampah menuju TPST Bantargebang.
“Kalau sampah sudah dipilah sejak awal, petugas kebersihan lebih mudah bekerja dan volume sampah residu juga bisa ditekan,” katanya.
Meski demikian, penerapan budaya pilah sampah di area terminal bukan perkara mudah. Karakter terminal yang sibuk dan dinamis membuat pengelola harus terus melakukan pendekatan persuasif kepada pedagang maupun awak bus.
“Kendalanya lebih kepada kebiasaan dan kesibukan aktivitas di terminal. Tapi mau tidak mau, perubahan harus dimulai sekarang,” jelas Nur Prasetyo.
Sementara itu, Lurah Kalideres, Rizky Raya Dwiputra, menilai keterlibatan pedagang dan UMKM menjadi faktor penting dalam mendukung program pengurangan sampah Jakarta.
Ia menyebut, sampah plastik yang masih memiliki nilai ekonomi seharusnya tidak langsung dibuang, melainkan dipisahkan untuk disalurkan ke bank sampah.
“Kalau dipilah dengan baik, sampah plastik justru bisa memberikan nilai tambah ekonomi bagi pedagang,” ujarnya.
Pemerintah berharap kebiasaan memilah sampah tidak berhenti sebatas program sosialisasi, tetapi menjadi budaya baru di lingkungan terminal dan pusat aktivitas publik lainnya di Jakarta.
Penulis : Rls
Editor : Redaksi































