PURWAKARTA – Pemerintah Kabupaten Purwakarta melalui Dinas Pendidikan telah lebih dulu mengimplementasikan program Pendidikan Lima Bunga Karakter, yang kini selaras dengan program nasional 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dari pemerintah pusat.
Program ini bertujuan membentuk karakter siswa agar menjadi pribadi yang cerdas, mandiri, dan berakhlak mulia. Seluruh jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di bawah Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta telah menjalankan program ini secara konsisten dan berkelanjutan.
Salah satu implementasi nyata terlihat di SDN 2 Cilandak, Kecamatan Cibatu. Program pendidikan karakter yang diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar dinilai mampu membawa perubahan signifikan pada perilaku siswa ke arah yang lebih baik.
ADVERTISEMENT
Advertesment
SCROLL TO RESUME CONTENT
Perubahan tersebut terlihat dari sikap siswa, baik di lingkungan sekolah, rumah, maupun masyarakat. Mereka menunjukkan perilaku terpuji, lebih peduli terhadap lingkungan sosial, serta terbiasa melakukan hal-hal positif.
Pendidikan Lima Bunga Karakter sendiri mencakup berbagai aspek, di antaranya Tujuh Poe Atikan, Sekolah Ramah Anak, Pendidikan Anti Korupsi, Pendidikan Agama, pendalaman kitab suci, serta program Tatanen di Bale Atikan.
Dalam praktiknya, program ini diterapkan melalui kegiatan harian, seperti:
Senin (Ajeg Nusantara): Upacara bendera untuk menanamkan nasionalisme
Selasa (Mapag Buana): Pembelajaran teknologi informasi
Rabu (Maneuh di Sunda): Pelestarian budaya Sunda
Kamis (Nyanding Wawangi): Menumbuhkan empati sosial melalui kegiatan berbagi
Jumat (Nyucikeun Diri): Kegiatan keagamaan seperti kultum, yasinan, dan salat dhuha berjamaah
Sabtu–Minggu (Betah di Imah): Pembiasaan belajar dan membantu orang tua di rumah
Program ini juga sejalan dengan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan bergizi, gemar membaca, bersosialisasi, dan tidur lebih awal.
Kepala SDN 2 Cilandak, Raesih, S.Pd, mengatakan salah satu kegiatan unggulan di sekolahnya adalah “Ngabring ka Sakola”, yaitu gerakan berjalan kaki bersama menuju sekolah.
“Anak-anak berjalan kaki bersama dalam suasana penuh kebersamaan, didampingi guru dan orang tua. Ini bukan sekadar perjalanan, tetapi sarana menanamkan kemandirian, kebersamaan, dan pola hidup sehat,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (29/3/2026).
Ia menambahkan, suasana sekolah juga dibangun dengan penuh kehangatan. Para guru menyambut siswa di gerbang sekolah sebagai bentuk perhatian dan kedekatan emosional.
“Semua program pembelajaran kami jalankan sesuai arahan Dinas Pendidikan. Alhamdulillah, didukung penuh oleh orang tua, sehingga pelaksanaannya berjalan harmonis dan manfaatnya cepat dirasakan,” pungkasnya.
Penulis : Asep Budiman
Editor : Hery Lubis































