KOTA TANGERANG – Pengenalan pemilahan sampah dan pemanfaatan maggot BSF sejak dini dinilai menjadi kunci utama keberlanjutan program Kampung ProKlim di Kota Tangerang. Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Kampung Darling Sobirin, di tengah kegiatan edukasi lingkungan yang melibatkan anak-anak dan kelompok masyarakat setempat.
Anak-anak diajak turun langsung ke lokasi Biopon Maggot Kampung Darling untuk melihat sekaligus mempraktikkan proses pengolahan sampah organik.
Ketua Kampung Darling Sobirin menerangkan, pendekatan langsung di lapangan menjadi langkah efektif agar anak-anak memahami pengelolaan sampah bukan sebagai beban, melainkan aksi nyata yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.
“Di sela-sela latihan menari untuk pentas Agustusan, kami sempatkan mengajak anak-anak mampir ke area Biopon Maggot. Awalnya mereka sempat ragu dan penasaran, tetapi begitu dibimbing untuk mencoba memberi makan maggot secara langsung, rasa ragu itu berganti jadi antusiasme tinggi saat melihat maggot mengurai makanan dengan cepat,” ujar Sobirin.
ADVERTISEMENT
Advertesment
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, pengenalan langsung ini efektif menghapus persepsi negatif bahwa pengolahan sampah atau maggot itu kotor dan berbau. Sebaliknya, anak-anak diberikan pemahaman mendasar mengenai peran ekologis larva Black Soldier Fly (BSF) dalam mengurai sampah organik secara alami.
“Mengajarkan pemilahan sampah dan kebermanfaatan maggot BSF sejak usia dini adalah kunci keberlanjutan Kampung ProKlim. Ketika anak-anak paham bahwa maggot itu tidak bau dan sangat berjasa mengurai sampah organik, di situlah kepedulian lingkungan tumbuh secara alami,” tambahnya.
Melalui upaya edukasi yang konsisten ini, Kampung Darling berharap kebiasaan memilah sampah organik dari sumbernya dapat diterapkan di rumah masing-masing, sekaligus mencetak generasi muda Kota Tangerang yang peduli dan tanggap terhadap kelestarian lingkungan hidup.
Penulis : Abdul
Editor : Pjm






























